Bersama Bersaudara -Orientasi Angkatan XXI UKM Kesenian Unej

Pada awal tahun ajaran baru ini UKM Kesenian Universitas Jember (UJ) kembali membuka pendaftaran atau open recruitment anggota baru yang berujung pada pelaksanaan kegiatan orientasi (sebutan pendidikan dan pelatihan dasar seni untuk UKM Kesenian UJ). Orientasi kali ini telah memasuki angkatan yang ke-21 dan seperti biasa orientasi dilaksanakan 2 (dua) fase dan di tempat yang berbeda pula.

Fase Orientasi Ruang dilaksanakan 2 (dua) hari yaitu pada Sabtu (3/3/2018) sampai dengan Minggu (4/3/2018) yang bertempat di Gedung Sporthall UJ dan Orientasi Lapang pada Kamis (15/3/2018) sampai dengan Minggu (18/3/2018) di daerah Perkebunan PDP Kahyangan, Desa Kemiri, Kec. Panti, Jember, Jawa Timur. ORIENTASI XXI UKM Kesenian UJ kali ini mengusung tema “Bersama Bersaudara” dengan harapan mampu menciptakan karakter yang memiliki jiwa solidaritas tinggi pada para calon anggota.

Sekitar 160 lebih peserta dari berbagai fakultas yang ada di Kampus Tegalboto ikut dalam kegiatan ini khususnya pada Orientasi Ruang. Hari terakhir Orientasi Ruang mereka dibentuk menjadi kelompok-kelompok kecil dari berbagai bidang seni yang ada dengan tujuan agar mereka dapat mengenal satu sama lain, tidak hanya teman satu bidang saja, sebab UKM Kesenian UJ merupakan sebuah organisasi, bukan sanggar. Pada hari terakhir Orientasi Ruang, tepatnya Minggu malam(4/3/2018) mereka diwajibkan mementaskan sebuah pertujukan sebagai syarat lolos pada Orientasi Ruang ini.

 

 

Setelah dinyatakan lolos pada Orientasi Ruang para peserta kemudian melewati Orientasi Lapang. Pada fase ini jumlah peserta atau calon anggota mengalami penurunan. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya hal ini biasa terjadi dimungkinkan peserta yang kurang siap dalam berbagai hal baik fisik maupun mental untuk terjun ke lapang.

Fase Orientasi Lapang sendiri menjadi fase yang paling berkesan, bagi para calon anggota muda khususnya. Di sana mereka ditempa selama 4 (empat) hari di alam terbuka. Bukan tempaan ala militer atau apapun sejenisnya, tapi tempaan di sini lebih kepada mental dan kesadaran mereka dalam menjalani proses berkesenian di UKM Kesenian UJ nantinya. Dimulai dengan berjalan kaki setelah turun dari truk yang membawa mereka (calon anggota muda) ke desa terakhir sebelum perkebunan, melewati pohon-pohon karet yang berjajar sampai akhirnya tiba di lokasi pelaksanaan orientasi setelah menyeberangi sungai berair jernih.

Tak lama setelah sampai di kamp, para calon anggota muda langsung diarahkan untuk membuat lingkaran. Lingkaran yang dibentuk setiap akan ataupun saat berkegiatan orientasi inilah yang nantinya menjadikan para calon anggota muda memiliki rasa “Bersama Bersaudara”. Orientasi lapang ditutup pada Minggu pagi (18/3/2018) dengan peng-ikraran di sungai. Dengan terpaan arus air yang segar, mereka bersama-sama mengucap ikrar yang menandakan telah selesainya rangkaian orientasi lapang angkatan XXI.

Salam Budaya !!!

ditulis oleh : Instagram

Iklan
Featured post

Cinta yang Purba

Mari kuceritakan bagian cinta paling purba.

1/

Alif laam miim[1] berkibar mengawali perjumpaan

Kau, aku berdiskusi sepanjang usia semesta

Perihal anggur cintaMu yang membuatku menjadi pecandu

Kau senyum, telaga mataMu.

Kun[2], jadilah aku dari lipatan-lipatan waktu dalam kealpaan

Yang gusar di perjalanan menuju hiro’[3]

Gigil,

kubaca kembali sabda yang bersemedi pada sayap-sayap jibril ketika

adam menggoda hawa di tepian waduk firdaus.

Kau kah itu kekasih, semedi alam dalam sabda nafasku?

aku, tersesat menujuMu—fana.

Adakah yang lebih purba dari Kau, cinta?

/2

Kasih, Biar kudongengkan cinta  yang hampir dilupakan tuannya.

Sepanjang lorong keabadian. Kau bertahta di puncak maha meru

Merah bibirmu membuatku semakin lebam dihantam rindu, bila jauh.

Biar aku berkolusi dengan waktu, mencintaimu setenang mindanao

Dengan cinta yang kudewasakan di bantaran bedadung[4],

 sepanjang cintaku hingga temui muaramu.

Menjelang magrib,

 bocah-bocah berlarian mengarak matahari,

membawa bercawan-cawan do’a yang berpintalan saling mendahului menuju Tuhan.

Ibu cekikikan di dekat perapian.

Mantra merah-putih lebih hingar dari nyala senja.

3/

Kau berhasil membuatku mabuk dengan segelas anggur cinta.

Kekasih, Akulah yang tersesat menujuMu di belantara dunia yang kehilangan nurani.

Kasih, Akulah yang mencintaimu sekuat dan senyala merapi.

 

4/

Atas nama cinta yang purba,

Kubai’at diri menjadi hamba

Katamu;

Jika bukan karena musa dan tongkatnya maka tenggelamlah aku dalam kealpaan cinta.

Jember, Juli 2018

[1] Ayat pertama Surah Al-baqarah di dalam Al-qur’an

[2] Ayat ke 82 Surah Yasiin

[3] Gua tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama Surah Al_’alaq 1-5

[4] Sungai yang menjadi maskot kota Jember

Sebuah puisi karya Milatul Maftah, salah satu Anggota Muda UKM Kesenian Universitas Jember. Puisi yang meraih juara 3 Tangkai Lomba Penulisan Puisi dengan tema Cinta yang diadakan oleh Universitas Jember, dalam rangka Seleksi Pekan Seni Mahasiswa Universitas Jember.

Instagram

Lahirnya Rahim Bapak

Oleh: Maysaroh

Tuhan sedang tersenyum menggamit cinta dari ciptaannya.

Untuk ke-Esaan tanpa penyesatan.

lahirnya rahim bapak 

Semburat malam mulai merajai langit-langit Sangon Gede. Kebingaran meluncur dari hilir barat dengan suara-suara sakral berupa mantra dan puji-puji. Kenduri  berupa kebiasaan yang tak bisa terbantahkan. Jika ditanya mengapa musti kenduri? Maka jawabnya ialah nama merupakan sebuah doa bagi kehidupan.

Acara sakral berlangsung dengan khidmat. Salah seorang penduduk bahkan kesurupan sebagai pertanda persembahan diterima. Seorang tetua adat membacakan mantra pengusir ruh nenek moyang yang dikira masuk pada salah satu penduduk yang bernama Hodiri. Penduduk yang lainnya meringis bahkan anak kecil banyak yang menangis. Bapak-bapak membantu tetua memegang tangan Hodiri yang rupanya senantiasa ingin kabur.

Hodiri sadar. Setelah dibacakan mantra yang kesekian kalinya. Matanya mengerjap-ngerjap kebingungan. Di sekelilingnya penduduk kampung memegang tangan dan kakinya dengan erat. Ia mulai berdiri lalu menatap tetuah yang juga memandangnya.

“Kau kesurupan buyut, kita.” Ucap tetuah dengan mata tajamnya.

Hodiri tidak berkata apapun. Ia berlalu begitu saja. Lantas apa yang harus dipersoalkan dengan hanya kesurupan. Tidak. Ia sebenarnya khawatir. Kesurupan ruh nenek moyang berarti sebuah teguran. Ia pasti telah melakukan kesalahan. Hodiri menatap langit yang rupanya sedang sepi. Apakah kesalahan bermuara ditemuinya seorang wanita ditepi sungai? Tapi baginya itu bukan sebuah kesilapan. Bahkan disebut sebagai sebuah kesialan merupakan hal yang sangat mustahil. Ia juga sudah berbincang banyak dengan wanita itu, bahkan besok mereka berjanji untuk bertemu di tepi sungai yang sama.

Hodiri menepis rasa dalam dirinya yang mulai bergejolak. Lelaki itu harus bersyukur dipertemukan dengan gadis cantik meski secara nalar tidak masuk akal. Beberapa waktu di perjalanannya menuju rumah, Hodiri terpekur untuk memikirkan tujuan gadis itu di tepi sungai. Jangan-jangan gadis itu tetesan dari Nawang Wulan sang bidadari berselendang merah. Kemudian ia adalah Jaka Tarub, pencuri selendang yang kemudian menjadi cinta sejati bidadari jelita itu. Lalu Ia akan tersenyum-senyum bila mengangankan ia-lah renkarnasi dari Jaka Tarub dan gadis itu sebagai kekasihnya.

“Kenduri sialan.” Hodiri mengutuk adat kampungnya.

Sungguh keyakinannya mulai menguap. Keluhuran yang fanatik ia tepis jauh-jauh. Tak ada kesialan, tak ada kesilapan, tak ada yang perlu dipermasalahkan. Hidup ialah nasib yang selanjutnya menjadi takdir. Semuanya hanya Tuhan yang bisa menentukan. Seperti kapur barus, keyakinan terhadap kepercayaan desanya langsung hangus, menguap bersama nafas yang berhembus. Ia tidak percaya sekalipun pernah mendapati beberapa warga yang kesurupan saat kenduri mesti mendapat kesialan.

“Emak, Hodiri pulang.” Teriak Hodiri di depan rumah gedeknya.

Seorang perempuan tua muncul dari pintu. Ia membawa daun pisang dan pisau. Perempuan itu tampak senang melihat Hodiri datang. Cepat-cepat ia menaruh daun pisang dan pisau di amben depan rumah. Ia mendekati Hodiri lalu menciuminya.

“Emak, Hodiri bukan anak kecil lagi.” Kata Hodiri meskipun sebenarnya ia suka diperlakukan penuh sayang oleh Emak.

Emak menangis. Ia sudah lama menanti kedatangan puteranya dari kota. Putera semata wayang yang demi menghidupinya musti bekerja jauh. Sebenarnya yang ia takutkan bukanlah jarak, tapi waktu. Perempuan tua pesakitan tak ingin waktunya terbuang tanpa Hodiri di sampingnya.

Hodiri  mengajak Emaknya duduk di amben tempatnya bersantai dulu. Bagi Hodiri, rindu tak seharusnya menyakitkan. Emak yang sudah renta dan biasanya mengeluh di setiap surat karena tak kuat berjalan harus menyampaikan kerinduan tanpa keluh kesakitan. Pikirnya, Emak adalah Ratu yang musti diistimewakan. Emak duduk di amben sedang Hodiri di bawah beralaskan tanah.

“Duduk di sini, Hodiri.” Suruh Emak lembut.

“Tidak, Emak. Perempuan istimewalah yang seharusnya duduk di situ.”

Emak tersenyum. “Kamu juga istimewa, Le. Seharusnya kamu duduk di samping emak.” Emak membantah Hodiri dengan halus.

“Emak memang benar-benar mantap kalau menyuruh Hodiri.” Kata Hodiri lalu duduk di samping Emaknya.

Mereka tertawa. Malam menjadi kesaksian rindu terbalaskan ibu dan anak tersebut. Malam yang dihakimi kegelapan menjadi terang benderang dibumbui rindu yang dipertemukan. Kebahagiaan renyah tanpa sedikitpun kegundahan menghantam. Rindu menjadi penawar dari racun ketidakpastian yang menggerogoti Hodiri. Lihat! Ia sudah bisa tertawa bertandang dengan Emak tersayang. Pikiran tentang kenduri, kesurupan, ataupun keyakinan-keyakinan primitif mulai lumer bersama kecapan-kecapan candaan darinya untuk Emak.

Pagi menjemput petang yang penuh dengan kebahagiaan. Langit gelap mulai dibumbui warna jingga bias mentari dari timur. Bapak-bapak memikul cangkul menuju sawah tempat mencari nafkah. Ibu-ibu berjalan serumpun membawa cucian ke tepi sungai, begitu pula sebagian bapak-bapak lainnya. Bapak-bapak itu tidak memiliki sawah yang harus dicangkul, dibajak, atau ditanami padi-padi. Mereka hanya memiliki penghasilan dari mengumpulkan batu-batu besar ataupun pasir dari sungai untuk mendapatkan beberapa rupiah.

“Hodiri.” Teriak Emak memanggil anaknya yang tak kunjung keluar dari bilik kamar.

“Iya, Mak. Masih siap-siap.” Kata Hodiri berteriak juga.

Hodiri memakai baju milik bapaknya. Bapak yang sudah lama pergi ke keabadian untuk menghadap Tuhan. Ia memakai baju lama bapak untuk pergi ke sawah. Tugasnya sekarang adalah membantu emak menanam padi. Emak sudah ia suruh untuk tinggal di rumah, tapi emak menolak. Alasannya emak ingin sehat dengan beraktivitas, dan itu diamini oleh Hodiri.

Bapak Raden rupanya sedang melakukan pengusiran hama wereng pada padinya. Ia membawa beberapa sesajen lalu menghidupkan api untuk membuat arang. Ia melakukan ritual yang biasa disebut selametan padi. Kemenyan ditaburkan ke dalam arang dengan mantra-mantra agar padinya tidak terkena hama atau penyakit semacamnya.

Emak berjalan tertatih-tatih. Emak bilang sakit di kakinya tiba-tiba kambuh. Ia terduduk di jalan setapak menuju petakan sawahnya. Hodiri yang tanggap langsung memijati kaki emaknya. Emak menepis tangan Hodiri. Ia tak suka dipijat oleh anaknya sendiri. Bukan karena tak menghargai Hodiri, tapi cintanya pada Hodiri melebihi apa pun yang ia punya di dunia ini. Ia tak mau menyusahkan anaknya. Meskipun keinginannya untuk membuat hidup Hodiri selayaknya raja sering ditolak secara halus. Seperti saat ini, Hodiri tetap memijat kaki emaknya.

“Tak usah. Kamu jalan saja. Emak sudah biasa.”

“Tugas anak adalah berbakti, Mak.”

“Berbakti dengan menuruti kata-kata emaknya.” Kata Emak tegas.

“Emak selalu begitu.” Hodiri cemberut.

“Tak usah khawatir. Kaki emak sudah tidak sakit. Ayo jalan lagi.”

Hodiri memapah emaknya berjalan. Ia tahu emaknya hanya ingin menenangkannya dengan mengatakan kakinya sudah tak sakit. Ia tahu tidak mungkin secepat itu. Hodiri memapah emaknya dengan telaten. Emak adalah ratu yang selamanya bertandang pada hati Hodiri setelah kecintaannya terhadap Tuhan. Mereka berjalan dengan lamban seperti keong yang mengesot di atas bebatuan.

“Emak duduk di sini saja.” Kata Hodiri sambil mendudukkan emaknya di jalan setapak sawahnya.

“Emak juga ingin menanam padi itu, Le.” Kata emak tak mau.

“Emak percaya hodiri, kan?”

Emak terdiam lalu mengangguk.

“Kalau begitu emak tunggu di sini. Hodiri ingin mencoba menjadi lelaki sejati.” Sambil menampakkan otot-otot lengannya. Emak tertawa renyah melihat kelakuan anaknya yang kerap kali seperti anak kecil. Kelakuan itu yang membuat Emak bersyukur. Ia merasa muda kembali, sehat lagi, bahkan ia merasa anaknya masih sangat membutuhkan kasih ibu. Kelakuan Hodiri yang kekanakan selalu menyenangkan hatinya.

Hodiri menanam padi lambat sekali. Ia sudah terlalu lama hidup menjadi buruh di kota. Hidup yang sama-sama melarat sebenarnya. Namun, tekhniknya tentu berbeda dengan menanam padi di sawah. Kehidupannya di pabrik hanya bersua dengan mesin-mesin dan teman-teman kerjanya. Tidak ada burung-burung, tumbuhan hijau, tanah, maupun udara segar pohon kelapa. Setiap hari, ia hanya akan menghirup udara dari AC ataupun mencium bahan-bahan kimia untuk tekstil di pabrik tempat kerjanya.

“Si Mirah melahirkan.” Kata pak Salam.

“Oh. Anaknya pak Abdullah yang katanya ditinggal suaminya ke kota lalu dikirimi surat cerai lewat kantor pos?” Tanya Bu Darsinah, isterinya.

“Iya. Trus dia kabur dengan membawa anaknya. Sepertinya tak kuat menahan malu.” Jawab pak Salam.

“Kasihan ya, Pak.”

“Kasihan ya!  Tapi kok dibicarakan aibnya.” Kata Hodiri sedikit kesal.

Hodiri yang mendengar perbincangan mereka merasa risih. Sebenarnya yang perlu dikasihani adalah mulut mereka sendiri. Bagaimana mereka bisa menggunjing nasib saudara serumpun? Bukankah seharusnya tidak ada perbincangan tentang kesialan yang dialami seseorang. Itu sebenarnya juga merupakan sebab-musabab Hodiri bekerja keluar kota. Ia tak suka berada di tempat yang dipenuhi dengan orang-orang yang pura-pura peduli padahal menggunjing. Ia tak seirama dengan adat yang meyakini roh nenek luhur sebagai patokan nasib. Ia juga sangat menentang terhadap ketertindasan perempuan di kampungnya yang tidak dianggap sama sekali meskipun mereka tak merasa sedang mengalami ketidakadilan. Ia benar-benar tak habis pikir ketika ia harus meyakini keyakinan-keyakinan primitif itu meskipun ia tidak menyukainya.

“Apaan katamu, Le.” Pak salam tersinggung.

“Tidak apa, Pak. Saya hanya merasa kasian aibnya dijadikan bahan pembicaraan.” Kata Hodiri mencemooh.

Darsinah menenangkan suaminya agar tidak emosi. Ia melerai perbuatan suaminya yang ingin mendatangi Hodiri. Napas Sulam naik turun karena emosi, begitu pula dengan Darsinah. Darsinah menatap Hodiri dan Emak yang duduk di jalan setapak, tak suka. Ia merasa harga dirinya sedang diinjak-injak ketika Hodiri malah membalas kekesalan mereka dengan seutas senyum manis, sungguh menjengkelkan.

“Punya anak diajari sopan santun, Bu.” Kata Darsinah kepada Emak.

“Tak usah disuruh, Lek. Emak sudah sangat bagus mendidik saya.”

Le.” Kata Emak mengisyaratkan anaknya untuk diam.

Darsinah mengajak suaminya untuk kembali bekerja. Sesekali ia memandang tak suka ke arah anak dan ibu tersebut. Demikian juga suaminya, bahkan sering memberi tatapan-tatapan sadis yang membuat Emak meringis.

Hodiri menanam padi-padi tersebut dengan khusyuk. Sampai padi-padi yang dibawanya sudah hampir semuanya tertanam. Emak menyuruh Hodiri untuk duduk lalu bersantap makanan yang ia bawa sebagai sangu. Namun, Hodiri tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia bertekad untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum makan karena takut setelah makan akan malas melanjutkan.

“Sedikit lagi, Mak.”

Pekerjaannya selesai. Padi sudah tertanam semuanya. Peluh membasahi pelipis Hodiri. Bajunya juga ikut basah meskipun tak terlihat karena warnanya yang gelap. Hodiri tersenyum menatap padi-padinya yang berhasil ia taklukan. Badannya remuk karena harus menunduk lalu menanam satu-persatu.

Hodiri berjalan mendekati Emaknya. Kakinya sedikit pincang karena tak sengaja menginjak keong. Ia mengusap pelepisnya yang basah karena lelah dan cahaya mentari yang tak kunjung padam menyinari tempatnya. Hodiri berjalan tertatih-tatih. Emak menahan sakit melihat Hodiri berjalan pincang. Kasihan benar ia. Kesakitan pada tubuh Hodiri ia rasakan sama halnya dengan kesakitannya sendiri. Begitulah Emak yang menyayangi Hodiri selayaknya langit yang membungkus bumi. Laki-laki yang saat ini dipandangnya pernah lahir dan aman dari rahimnya. Rasanya Emak ingin Hodiri kembali saja ke rahimnya agar tak perlu hidup bersusah payah. Biarlah ia yang menanggung beban hidup dan bekerja untuk anak dan dirinya sendiri. Itu lebih mengasyikkan ketimbang melihat anaknya kesakitan.

Emak dan Hodiri menyantap makanan mereka dengan khidmat. Tiba-tiba ingatan tentang gadis di tepi sungai itu muncul. Hodiri membayangkan gadis itu sedang bersamanya lalu menyiapkan makanan seperti ini. Ah! Betapa bayangan itu indah sekali jika benar adanya. Hodiri tersenyum mengutuk pikirannya yang mulai membayangkan hal-hal yang tentunya bisa jadi bullshit.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Emak pada Hodiri.

“Ah, tidak apa-apa, Mak.” Sangkal Hodiri menundukkan kepalanya.

“Memikirkan seorang gadis?” tanya Emak lagi.

Hodiri menatap Emaknya tak percaya. Bagaimana bisa tepat sasaran?

“Aku Emakmu. Tak usah heran, Le.”

“Emak memang yang paling mengerti.” Kata Hodiri sambil tersenyum.

“Lalu kapan diperkenalkan dengan Emak?”

“Masih dalam masa pengenalan, Mak. Sabar saja.”

Emak tersenyum mendengar pengakuan Hodiri. Ia tak bertanya apa pun lagi. Mereka kemudian sama-sama diam sambil menghabiskan makanannya masing-masing.

Mentari mulai menemui pengkhitbahannya. Ia mulai dilingkupi oleh cahaya jingga menuju keharibaan malam. Cahaya senja menyusup di sela-sela pepohonan melampirkan keesaan Tuhan yang tiada duanya. Aktivitas penduduk kampung berhenti kala itu. Penduduk kampung harus pulang agar tak dikutuk oleh para leluhur jika masih berkeliaran. Itu juga berlaku bagi Hodiri yang Emaknya masih sangat percaya dengan hal demikian. Hodiri dan Emaknya beranjak untuk pulang. Namun, di tengah perjalanan, Hodiri ingat sesuatu. Ia berjanji untuk menemui gadis tanpa nama di tepi sungai kemarin. Ia pun datang dengan izin dari Emaknya yang penuh dengan keterpaksaan.

Mula-mula Hodiri mengantar Emaknya pulang. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya menuju tepi sungai dengan alasan buang air besar. Sungguh setelah ini, Hodiri akan meminta pengampunan pada Emaknya.

Sesampainya di sungai, ia tak melihat seorang pun di sana. Apalagi seorang gadis. Bahkan tak ada bayang-banyang kehidupan manusia. Hodiri merasa bersalah. Batinnya merasa ia sudah terlambat mendatangi perempuan itu. Ia yakin sekali. Perempuan itu pasti telah lama menunggunya. Ia membalikkan badan untuk kembali ke rumah gedeknya. Namun, ia mendengar suara bayi dan itu menyebabkannya urung kembali. Ia mendatangi semak-semak yang di rasa sumber suara tersebut.

“Astaghfirullahaladzim.” Hodiri terlonjak kaget.

Ia memastikan penglihatannya dengan mengucek kedua matanya. Itu nyata. Bayi yang ia lihat nyata. Ia pun mengambil bayi tersebut kegendongannya. Sebuah surat jatuh ketika ia mengambil bayi tersebut.

Untuk Mas Hodiri yang kutunggu kedatangannya dari pagi.

Hodiri mengerutkan dahinya. Surat itu tertuju padanya dan itu membuatnya heran bukan kepalang. Ia kemudian membuka surat itu.

Dari Mirah (perempuan yang baru kau kenal kemaren).

Hodiri kaget. Sekarang ia dapat menyimpulkan bayi siapa ini. Mirah, perempuan yang melahirkan dan ditinggal sang suami. Lalu, ia adalah lelaki yang terlalu berharap menjadi pasangan hidupnya. Benar-benar bodoh, ketika yang ditemuinya ialah anak Mirah, bukan ibunya ataupun anak beserta ibunya.

“Maafkan aku karena tidak bisa menemuimu. Aku terlalu kalap, Mas. Sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak lama. Kau lelaki baik. Penduduk kampung banyak yang memuji perilakumu. Aku sangat yakin itu. Oleh karena itu, kutitipkan anakku padamu. Dia memang terlahir dari rahimku. Tapi kuyakin kau lelaki penyayang sekalipun tak mempunyai rahim. Kau adalah lelaki pilihan, Mas. Pilihanku untuk menjadi bapak sekaligus ibu dari anakku. Maafkan! Aku harus pergi ke kota menyusul suamiku. Aku ingin meminta kepastian tentang surat cerai itu. Aku sangat menyayanginya, mas. Dan kuyakin dia pun begitu.”

“Aku juga mencintaimu, Mirah. Sekalipun kita baru bertemu kemaren di tempat ini.” Kata Hodiri pilu.

Impiannya kandas. Namun, bayangan yang sering muncul di benaknya benar sudah adanya. Ia benar-benar menjadi Jaka Tarub. Bedanya, ia tidak mencuri. Ia juga tidak mengambil selendang. Tapi, ia mendapat buah cinta dari perempuan pujaannya.

Sore itu. Disaksikan langit yang mendung. Angin yang berdesir seperti kirap memberi isyarat. Ia memutuskan untuk pulang dengan membawa  bayi perempuan. Bukan seorang perempuan untuk dipinang. Tetapi, bayi perempuan untuk dibesarkan. Ia menjadi bapak tanpa menikah. Memiliki anak tanpa beristri. Ia menjadi satu-satunya pria yang dikata memiliki rahim di kampungnya.

Selanjutnya, ia melaksanakan kenduri dan mengubah pandangan para penduduk kampung. Kesurupan bukan berarti kesialan. Nasib adalah Tuhan yang menentukan. Ia merupakan bukti dari keberuntungan yang didapat sekalipun ia mengalami kesurupan yang disangka cikal-bakal kesialan. Tuhan sedang berbaik hati memberinya buah hati tanpa susah payah mencari isteri.

Selesai.

Jember, Juli 2018

Sebuah cerpen peraih juara 2 dalam Seleksi Kampus Pekan Seni Mahasiswa Universitas Jember.

Instagram

 

Produksi Rindu Terbalik

produksi rindu terbalik

oleh : Akang

 

 

 

 

Aku dibesarkan oleh rindu, menyusu pada air mata ibu, ditimang kegelisahan seorang kakak. Kasih sayang ayah telah mati di beranda rumah.

Aku dibesarkan oleh kerinduan yang pekat. Kebahagiaan adalah mimpi-mimpi yang disulam ibu menjelang senja, kemudian setelah menjadi kain dengan sengaja ibu meninggalkannya. Seolah berpesan, “Kini saatnya kau menjahit kain untuk dirimu sendiri”.

Kehidupan adalah sepi yang menyamar serupa keramaian di ujung antrian sembako, serupa ingar-bingar penyambutan iklan sirup Marjan sebelum Ramadhan, serupa hiruk-pikuk pedagang mukenah.

Satu, satu, satu

Menjadi batu

Menyatu

Terpaku

Kaku

Aku

Sampai pada liang lahat yang sepi nanti, aku menanti!

 

NB : kunjungi Instagram  blog   untuk mengenali penulis.

Wanita Bayang-Bayang

Oleh :Maysaroh

Senja mengusik lamunanku. Aku tersipu melihat pancaran cahaya di balik pohon rawu samping musala. Sungguh indah, melihat senja sekaligus pemilik lesung pipit yang sedang menghampiriku. Rambutnya mendayu-dayu terkena angin sore. Sekali lagi, aku termangu. Senyumnya berhasil membawaku mengkhayal ke langit ketujuh. Mungkin ia titisan Dewi Sinta yang cantiknya amat memesona. Atau, ia reinkarnasi Drupadi yang digambarkan sebagai seorang wanita halus dan penyayang.

Aku tak dapat memalingkan wajahku. Kuyakin jika kalian melihatnya, berkedippun takkan kuasa. Sungguh Maha Baik Tuhan yang menciptakan makhluk sesempurna dia. Satu langkah lagi. Tinggal satu langkah lagi, ia akan berjalan di depanku. Dari jarak satu langkah ini, aku sudah dapat mencium bau parfumnya. Cerry. Aku suka cerry. Aku sangat menggandrungi cerry, salah satunya karena dia. Ia cerry-ku. Penguasa seluruh ruang sepi hatiku selama empat tahun ini. Ahh! Aku sudah GILA! Selama empat tahun, aku tak tertarik pada perempuan manapun. Hanya dia. Satu-satunya.

“Ali, aku duluan ya!” Pamitnya.

Aku tersenyum. Suaranya selembut sutra. Bibirnya ranum kemerah-merahan. Matanya bening ala-ala pemain drama Korea. Jangan tanya kulitnya! Kulitnya putih, tetapi bukan putih pucat seperti orang-orang biasanya. Aku menatapnya canggung. Ia mendekat padaku. Suara langkah kakinya membentuk sebuah melodi indah. Aku memejamkan mata.

“Kenapa kau memejamkan matamu?” Tanyanya sambil tertawa cekikikan.

Aku salah tingkah. Ia sangat dekat denganku, kira-kira lima langkah kakiku. Kemajuan pesat. Ya! Kalian tak perlu heran. Karena, biasanya aku hanya dapat menatapnya dari kejauhan.

“Iyalah, ada nenek gayung di sini. Haha.” Aku tertawa sekaligus mencoba menenangkan debaran jantungku. Satu langkah lagi ia mendekatiku. Aku yakin, aku akan pingsan saat itu juga.

“Di mana ada nenek gayung? Ah! Kamu lucu. Nenek gayung ‘kan cuma ada dalam cerita dongeng anak-anak.”

Ya! Seperti mimpiku untuk memilikimu. Hanya dongeng, Ratih. Ucapku dalam hati.

“Hei! Kamu tidur berdiri?!” Katanya lalu tertawa renyah.

“Ya nggaklah. Kamu nggak sadar, ya!” Kataku pura-pura misterius.

“Sadar apa?” Tanyanya. Mata beningnya berkedip sekali, lalu menatapku intens.

Sekali lagi aku bungkam karena tatapannya. Semua dari dia adalah candu. Aku terpana pada apapun miliknya. Apapun. Sungguh. Bagiku, dia adalah yang sempurna.

“Heh! Bengong lagi!” Katanya cemberut.

“Dasar gayung.” Kataku padanya lalu menjulurkan lidahku.

“Ha! Aku cantik gini kok disamain sama nenek gayung!” Cibirnya.

Aku tersenyum.

Tin… tin…

Suara klakson mobil berbunyi dengan nyaring. Kami menoleh ke arah sumber suara hampir bersamaan. Wajah Ratih seketika berubah ceria. Ia tersenyum, lalu berhambur ke arah mobil merah di depan kami. Aku tersenyum hambar. Mataku hampir mengeluarkan tetesan sendu. Tetapi dengan sekuat hati, aku mencoba menahannya. Aku akan ditinggalkannya.

“Duluan ya, Aku pulang dulu sama suamiku. Ayo, Roy!” Ajaknya kepada Roy. Suaminya sejak satu tahun lalu.

Hatiku hancur. Ia telah menanggalkan hatiku. Bayangan senyumnya masih milikku. Wajah cantiknya, bahkan suara merdunya. Ia tetap milikku. Wanita bayanganku. Aku tak dapat berpaling darinya, meskipun ia bukan milikku. 

Selesai

wanita bayang-bayang

Jember, 24 November 2017

Ditemani suara jangkrik. Suasana hati yang perih ketika sang tuah tak mampu menahan gejolaknya sendiri.

Ditulis oleh : Instagram

Hujan

hujan

Oleh: Bunga Tanpa Nama

Hujan selalu membawa pulang ingatanku yang hilang

Ingatan yang kualamatkan pada gurat senyummu, kekasih.

 

Bersama  Hujan,

Malaikat mengapit samudera yang membentang di hadapan kita

Membawa hangat tawamu yang terselip pada kepak sayapnya.

 

Adalah aku bulir-bulir yang jatuh dengan tabah

Mengkristal  di sepanjang do’a yang lebam.

pada kebersamaan hujan dan rindu yang belum usai

aku berdiri menghitung berapa banyak bahagiamu

mengaliri anak-anak sungaiku.

 

hujan adalah dirimu

yang menikamku dengan  syahdu

hujan adalah aku

gemercik air yang mencumbuimu.

 

Seperti biasa,

wajahmu merona bagai senja yang berpesta warna

Ketika camar  bersajak perihal awan yang mengarak

Bulan sabit di matamu.

 

hujan adalah dirimu,

candu bagi kemarau di dadaku.

Hujan adalah aku,

Yang luruh dalam nafasmu.

Jember, 2018

 

Biografi Penulis :

Bunga tanpa nama” sebut  saja begitu.

Tengah kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan program studi Pendidikan Ekonomi di Universitas Jember angatan 2017.

Hanya seorang gadis kutu  buku yang bercita-cita muluk ingin menjelajah dunia.

Mencintai puisi lebih dari apapun, sebab hanya kata yang setia setiap saat dan hanya puisi yang takkan pernah berhianat.

Kunjungi profil penulis lebih lengkap di  Instagram

Kegagalan Masa Depan, Sarko

                Dia sudah tidak bisa bergerak lagi. Matanya jatuh di antara gelap dan cerah. Tangannya sudah tidak bisa memegang bara api. Kakinya sudah tidak mampu menendang memori perusak moralnya. Hatinya sudah retak bak aspal di ujung desa. Perasaannya sudah menjadi rimba tak bercelah. Otaknya sudah pergi tanpa pesan tertinggal. Selamat tinggal. Dia akan baik–baik saja.

ilustrasi_20170315_134037

            Namanya Sarko, dia melepuh di ambang batas antara rindu dan dengki. Seluruh kecintaannya yang terbentuk dengan sangat susah, harus segera diakhiri dengan dua pilihan yang saling bertentangan. Keberadaannya selalu menjadi keindahaan yang tiada batas. Bahkan ketika semua orang sedang sibuk memperhatikan lalu lintas sosial lewat sebuah jaringan, dia malah asik dengan segelas kopi Robusta dan sebatang rokok. Dia memang termasuk dalam salah satu dari semua orang, tapi ada yang berbeda. Dia tidak punya keberanian untuk melebur dalam rombongan itu. Ada alasan berat yang tak bisa dia cetak di banner besar lalu dipampang di papan iklan ataupun ditampilkan di layar televisi pada jam sepuluh ke atas.

            Suatu hari saat matanya jatuh di antara gelap dan cerah, ia sedang menundukkan kepala melihat tanah-tanah berhamburan dengan murkanya, dengan indahnya membiarkan sebuah mawar tumbuh di badannya tanpa pamit dan tanpa ada timbal baliknya. Mendengar keluhan dari berbagai sudut manusia di sekitarnya membuat dia semakin tak ingin mengangkat kepalanya, dan kepalanya pun tak mau menuruti perintah otak. Saat Sarko ingin sekadar melihat bagaimana rupa dari manusia yang sedang membicarakan kasus percintaan lelaki dan pria yang harus diakhiri dengan segera. Dia ingin melihat itu, tapi sayang, kepalanya tak mau mematuhi perintahnya, dia tetap menunduk melihat bunga mawar yang sedang asyik dandan untuk acara perpisahaannya dengan tanah.

            Tangannya sudah tidak bisa memegang bara api. Sekali lagi, dia sebenarnya bukan pesulap yang bisa menghilang seperti di layar sorot di sudut desa. Juga bukan seorang mentalis yang bisa menciptakan struktur mental diri sendiri dengan baik. Dia hanya Sarko. Seorang manusia yang hampir ingin mengubur dirinya sendiri, tetapi tidak bisa melaksanakan teknis-nya dan akhirnya tidak menimbulkan bentuk realisasi.

            Dia pernah menjadi seorang manusia pesisir yang hanya duduk sambil ditemani bara api dari kayu yang dia ciptakan. Bara api juga merasa kesepian, jadilah mereka teman yang sama-sama sendiri. Keadaan menjadi tidak adil ketika Sarko malam itu hanya diam dan tidak mengucapkan satu katapun, “Padahal dia bisa berbicara!” Gumam bara api di dalam hatinya.

            Memang Sarko punya mulut untuk mengucap dan punya kepala yang berisi satu set otak serta seperangkat alat pendukungnya. Tapi, dia memang tidak berbicara sedikitpun. Malah, bara api ingin mengucapkan sesuatu yang selama ini ia pendam. Namun apa daya seonggok bara api ditakdirkan tidak mempunyai kemampuan sama seperti sarko untuk berbicara. Sarko pun tidak pernah membayangkan jika bara api bisa berbicara maka nasib seperti apa yang akan diterima kompor atau lpg ataupun kompor listrik.

            Malam masih terlalu dini untuk diselesaikan takdir. Sarko masih duduk di atas pasir dan tetap disanding oleh bara api yang masih mengeluarkan asap. Suara angin laut dan lambaian dedaunan membisinginya. Pendar bulan dan bintang malam itu menghiasi langit hitam pekat yang juga tak berbicara sedikitpun, tak menangis pula. Sesaat, Sarko men-selonjor-kan kakinya lurus untuk melancarkan peredaran darahnya, sesaat pula dia merebahkan tubuhnya di atas pasir.

            Waktu berlalu beberapa jam lalu ada sesuatu yang berisik, mengusik ketenangan Sarko. Angin besar datang tanpa permisi dan membuat bara api semakin menyala-nyala. Lalu ia dengar “sssss … ssshhhh … cok” entah dari mana asalnya, Sarko pun langsung berlari ingin menendang bara api lalu hendak pergi meninggalkan pesisir namun dia takut melukai kakinya. Reflek, dia ingin membuang bara apinya dengan tangannya. Saat dia membuka telapak tangan kirinya dan memulai ancang-ancang untuk menampar, tiba-tiba semua gelap dan menghilang, Sarko memejamkan mata lalu tiba-tiba jatuh di atas ratusan juta butir pasir.

            Keesokan harinya, Sarko memutuskan untuk berjalan keliling kota dan desa serta gedung dan cerobong selokan tanpa arah tujuan. Terus berjalan … berjalan … dan berjalan. Tanpa memperhatikan manusia di sekitarnya dan bunyi suara keluh-kesah, pidato tokoh masyarakat, gosip-gosip rukun tetangga, sepeda motor balap yang digunakan untuk membawa segebok rumput untuk ternaknya, alarm untuk tidur siang para wanita-wanita kerajaan, suara bel motor untuk memberikan isyarat permisi ke pengendara lain di depannya, suara gunung yang diposting di instagram, dan yang paling terdengar adalah suara paling sunyi dari seorang wanita berkacamata sedang membaca buku di perpustakaan kota. Telinga Sarko dimanjakan waktu itu, bahkan mungkin jika telinganya bisa berbicara, si telinga akan mengatakan “Aku bebas !!!”, ya walaupun akan terdengar mengerikan jika si telinga bisa berbicara.

            Dalam perjalanannya, Sarko bertemu dengan satu orang yang mengikutinya dari belakang. Sarko tidak pernah ingin menuduh orang itu maling ataupun memberikan instruksi pada orang tersebut untuk berhenti mengikutinya. Sarko dengan teguh tetap berjalan walaupun di perjalanan dia mencuri waktu untuk mencari kaca yang bisa dia gunakan untuk melihat orang misterius yang mengikutinya selama lebih dari satu jam perjalanan. Entah itu spion mobil yang sedang parkir atau seorang wanita yang sedang macak sambil berjalan membawa kaca kecil tepat di depan hidungnya. Tapi gagal, semua bentuk usahanya gagal, orang misterius itu menang telak dan berhasil menjaga kemisterius-annya. Sarko kecewa, hasratnya sebagai lelaki muncul, Sarko tidak akan kalah dengan lelaki lain, Sarko tidak akan menjadi bahan lelucon lelaki lain, Sarko adalah Sarko dan Sarko akan tetap Sarko. Lima detik setelah hasrat Sarko mulai mendidih, dia membalikkan badan dan kakinya mengambil ancang-ancang untuk menendang si misterius itu. “Dooor .. !!” suara tendangan Sarko. Namun Sarko terjatuh dan terlentang di trotoar. Dia melihat orang-orang tetap berjalan di sekitar, dia tetap mendengar suara mobil dan sepeda motor di aspal jalan, dia tetap mendengar bunyi telepon genggam milik masing-masing orang.

            Setelah sekian lama terbaring dan hanya bisa menggerakkan matanya, Sarko mulai duduk dan mengingat lagi yang terjadi sebelumnya. Setelah meraba memorinya, yang muncul adalah, kepala Sarko langsung menunduk. Dia ingat waktu menendang si misterius itu ternyata dia bukanlah orang lain, si misterius itu adalah bagian dari dalam diri sarko yang gelap. Sarko resah mengingat wajah itu, dia memutuskan untuk kembali merebahkan diri lagi di trotoar dan tidur.

            Keesokan harinya dia terbangun dari tempat tidurnya dan melihat ada sembilan jenis wajah lelaki yang sama sedang berdiri tegak melihatnya. Memang wajahnya terlihat familiar, namun sangat sulit mengingat namanya. Sarko tidak bisa berpikir, apalagi waktu dia baru bangun dari tidurnya.

            Kesembilan orang tersebut tiba-tiba berbicara dengan suara yang aneh; “Hiduplah damai, manusia bukanlah takdir tuhan. Engkau bukanlah manusia yang sama dengan manusia yang lainnya. Engkau diciptakan oleh tuhan yang berbeda. Engkau lahir dengan mukjizat yang berbeda dengan manusia lain. Engkau tumbuh dengan hidayah yang lain. Engkau besar dengan perlakuan yang berbeda dengan manusia lain. Engkau ada, diciptakan, dilindungi, disiksa, dan dibunuh oleh tuhan yang berbeda dengan manusia lain. Sarko, engkau merupakan satu-satunya yang terburuk, satu-satunya yang tak bisa diandalkan, satu-satunya yang gagal diciptakan dengan baik. Tapi engkau, layak hidup saat ini, di sini, di tempat ini, di dunia ini, saat ini. Selamat tinggal Sarko. Aku yakin engkau akan hidup dengan baik disini”

            Sarko semakin resah setelah mendengar apa yang diucapkan oleh orang tersebut. Dia tidak ingin merenung sambil resah. Dia merasa kepalanya akan meledak, tubuhnya akan mengerut, dan hatinya akan hancur. Telinganya mendengar suara ribut dunia di sekitarnya, matanya melihat ruangan yang sempit, otaknya berasap seperti mesin rusak, tangan dan kakinya beku seperti terkurung dalam freezer kulkas. Memori buruk kehidupannya muncul bergantian meminta pertanggungjawaban dan meminta kunci pintu untuk keluar dari kehidupan. Sarko berlari sekuat tenaga mencoba untuk tak menghiraukan apa yang terjadi pada tubuhnya, tetap berlari menuju ruang bawah tanah untuk menemukan kotak musik yang dulu pernah dia lihat, ada tulisan terpampang di bawahnya “Bukalah, ketika sudah waktunya”. Sarko yakin inilah waktunya, dia tetap berlari menyusuri anak tangga menuju ke bawah dan mencari di sela-sela barang yang menumpuk. Ketemu! Sarko berhasil mendapatkannya, dia periksa kembali tulisan di bawah kotak musik tersebut dan masih ada. “cklek” suara kotak tersebut, lalu suara-suara mulai muncul tetapi bukan layaknya kotak musik yang memainkan penggalan nada klasik, yang muncul malah suara seseorang “cek,cek. Selamat datang di acara pembukaan serta peluncuran ciptaan baru kita! Kita sambut dengan meriah! Master Silver Mayn! Bagaimana kabar ciptaan anda yang akan kita perlihatkan di panggung ini. Wow.. sangat bagus sekali, apa kalian sudah tidak sabar melihat bagaimana bentuknya? iya? benar??? maka kita perlihatkan karya Master Silver Mayn! wah bentuknya mirip manusia, detail dari telinga hingga pangkal pahanya tercipta dengan baik. Penonton harap tenang! Jangan ribut! Tolong tenangkan diri kalian! Ah .. hoi keamanaan .. aaaaaaaaaaaaa.” Lalu hanya suara seperti kaset yang tidak ada isi lagunya.

            Sarko diam kembali untuk kesekian kalinya hari ini, dia mulai ingat dan menemukan memorinya masa itu.

            Sarko adalah ciptaan Master Silver Mayn, seorang ilmuan yang tidak memiliki keluarga, seorang ilmuan yang hidup sendiri tanpa pendamping, seorang ilmuan idaman semua manusia pada waktu itu, seorang ilmuan yang selalu mendambakan mesin waktu, seorang ilmuan yang tidak menerima berbicara dengan orang asing. Dia berhasil menciptakan suatu penemuan bernama Sarko yang digunakan untuk menjadi pembantu kegiatan rumahan yang berbentuk manusia. Namun, karya pertamanya yang berbentuk manusia ternyata harus gagal, Mayn lebih pandai membuat robot dari pada harus berbentuk manusia. Atas dasar kehidupannya yang sering sendiri membuat sarko harus mengalami kegagalan saat peluncuran di hadapan masyarakat, Sarko tiba-tiba berlari ke arah penonton dan membunuh semua orang satu per satu.

            Kejadian sebenarnya adalah ketika Sarko ternyata ada di masa 100 tahun sebelum dia diciptakan, dia menggunakan mesin waktu milik penciptanya yang dirahasiakan. Karena mesin waktu itu belum sempurna, maka..

Begitulah sarko mengingat masa lalunya.

-tamat-

 

Biografi Penulias :

Namanya Mochammad Nurcholis yang harus disapa “Cholis” pakai “C”, kecuali keluargaku yang boleh memanggilnya dengan kata lain. Lahir di kota pisang, lumajang, jawa timur. Sedang menuntut ilmu yang tak bisa dituntut terlalu tuntut di Universitas Jember tepatnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Dalam proses penuntutan, dia ikut Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember dan pernah menjadi Ketua 3 (Humas) serta dilanjutkan menjadi Ketua umum periode 2017.

            Cholis adalah pemusik yang sedang mencoba untuk tampil dengan kemampuannya sendiri. Dengan olah vokal dan genjrengan gitar merah yang mirip dengan jenis gitar taylor. Sedang dalam proses pembuatan album yang dia yakini akan menjadi album pertama dalam hidupnya. Musik favoritnya yaitu Efek Rumah Kaca, Sigmun, dan Bin Idris.

            Pernah mengisi ilustrasi pada pentas Teater Lebus untuk naskah “Arkeologi BH”, Teater Pendopo dalam naskah “Reuni Mantan Pejuang”, dan Teater 2 (Matakuliah Sastra Indonesia konsentrasi sastra) dalam naskah “Penjara-Penjara, Orang-Orang di Tikoengan Djalan”. Pernah mengikuti Jambore Fotografi Mahasiswa Indonesia di Cirebon.

Kontak : Jl. Brigjend Slamet Riyadi no.110, 67311, Tompokersan, Lumajang, Jawa Timur. (087712518558 WA/SMS/Telp)

 

 

Seandainya Aku Menjadi Presiden?

download

Aku akan…

Berjanji pula?

Duuuh, maap maap saya takut berjanji.

Tapi saya akan…

Sholat dengan rajin

Berdoa dan sholawat dengan sungguh-sungguh

Agar rakyatku bisa tenang hidupnya

Dan berakhir dengan masuk surga bersama-sama

Jadi silakan pilih saya

Dan coblos nomor satu!

Jember, 26 Januari 2018

Inspirasi dari kamar kos.

 

Biodata Penulis :

Saya adalah manusia yang dimanusiakan Tuhan. Diciptakan untuk sekadar pelengkap bumi dan seisinya. Nama daging saya DianaPurnawati. Lahir di Lumajang, 23 Oktober 1998. Takdir Allah yang sedang saya jalani adalah kuliah di Universitas Jember Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Indonesia. Email- dianapurnawati24@gmail. com

Instagram /

 

Rumah Maru

Oleh: Istiqomatudz Dzakiroh

Asap membumbung memecah langit yang tadinya biru. Rerumputan dan dedaunan itu kini mengering. Ujung-ujungnya hitam pertanda baru dilalap api. Seorang gadis menatap hamparan gersang di hadapannya dengan sedih. Tangannya memegang sebuah syal merah yang ujungnya bekas terbakar.

“Maru…” ucapnya lirih. Air matanya mengalir membasahi pipi tembemnya. Baru dua hari ia meninggalkan tempat ini. Tapi saat ia kembali, semuanya telah musnah. Hanya sebuah syal yang kini ada di genggamannya yang tersisa. Ia teringat dua hari yang lalu, saat semuanya masih di sini.

“Nara, ayo tangkap aku!! Weeekkk…” seekor tupai melompat dan berlari dari satu pohon ke pohon yang lain.

“Maru, tunggu! Awas kamu nanti, ya!” Nara, gadis cilik berpipi tembem itu berlarian ke sana ke mari mengejar tupai bersyal merah itu.

“Hihihi… aku nggak akan tertangkap dengan mudah.” Ucap Maru dengan yakin. Ia sedang bersembunyi di dalam lubang sebuah pohon besar. Pohon tua itu selalu menjadi tempat andalannya untuk bersembunyi dari kejaran Nara, teman manusianya.

Nara mencari Maru dengan sangat teliti. Dari pohon satu ke pohon yang lain. Dari semak-semak yang satu ke semak-semak yang lain. Ia berhenti di depan pohon besar untuk mengatur napasnya yang tidak keruan. “Maru ke mana sih?!” tanyanya kesal pada diri sendiri.

“Hihihi… dia masih belum sadar kalau aku ada di sini.” Ucap Maru pelan agar tidak terdengar Nara.

Sssshhhhhh…

Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Maru. Matanya terbelalak saat melihat seekor ular sanca melata ke arahnya. “Aaaaahhh…!!!” jeritnya. Membuat Nara yang sedang tertidur langsung terperanjat.

“Maru!” Nara mencari-cari Maru. Ia berjalan memutari pohon sambil menatap ke atas pohon. Mencari keberadaan Maru.

“Pergi! Jangan makan aku! Nara! Tolong aku!” jerit Maru saat sanca itu mulai meliliti tubuh mungilnya.

Ada sebuah lubang di salah satu sisi batang pohon. Nara melihat ada ekor ular yang menjulur keluar dari lubang itu. Ia pun berusaha menariknya dengan sekuat tenaga. Perlahan ular itu jatuh. Ia terkejut saat melihat Maru yang tidak sadarkan diri di dalam lubang itu.

Ular itu menyerang Nara. Ia berusaha melilit kaki Nara, tapi Nara lebih cerdik. Ia melompat ke sana ke mari setiap ular itu akan melilitnya sehingga membuat ular itu lelah dengan sendirinya. Ular itu pun pergi setelah mengeluarkan suara desisannya.

Nara menghela napas lega. Ia kembali mengintip ke dalam lubang untuk mengecek keadaan Maru. Terlihat Maru yang sedang duduk dengan wajah tertunduk. Merasa malu, takut ataupun kesal. Entahlah, Maru sendiri juga tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini.

Nara tersenyum. “Maru nggak apa-apa, kan?” tanyanya.

Maru hanya mengangguk. Ia tidak berani menatap Nara.

“Aku nggak marah kok, ayo keluar.” Ucap Nara, seperti tahu apa yang sedang dipikirkan tupai bersyal merah itu. Ia mengulurkan tangannya ke dalam lubang.

Maru menatap Nara dengan mata berkaca-kaca. “Nara… aku takut…” ucapnya. Ia meraih tangan Nara dan menggelayutinya. Nara pun mengeluarkan tangannya dari lubang dan memeluk tubuh mungil Maru yang gemetaran.

Nara kembali menatap apa yang ada di hadapannya. Dulu, Maru sangat ketakutan saat akan menjadi santapan ular itu, apakah Maru juga sangat ketakutan saat api menghanguskan rumahnya? Pikiran Nara berkecamuk. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebelumnya ia selalu bermain di hutan ini dengan riangnya. Bermain petak umpet dengan Maru dan hewan-hewan lainnya. Bersembunyi di balik pohon-pohon yang rindang.

Tapi itu dulu. Kini semuanya telah hancur. Hutan yang menjadi kebanggaan negeri, kini telah tiada karena tangan orang-orang yang tak bertanggung jawab, yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa sadar bahwa ia sedang membunuh jutaan nyawa. Dan Maru… di mana Maru sekarang? Apa ia selamat? Atau… ikut hangus terbakar seperti jutaan pohon itu?

Para aktivis lingkungan terlihat sedang sibuk memadamkan beberapa titik api yang masih menyala. Mereka berbondong-bondong membantu memadamkan api. Nara menatap mereka dengan perasaan lega. Ia pun tersenyum, “Ternyata masih ada orang-orang yang peduli dengan rumah Maru.” Pikirnya.

“Nara!” seseorang memanggilnya. Sebuah suara yang sangat dikenalnya.

Nara menoleh, ia tersenyum. “Dari jutaan nyawa yang menghilang, satu nyawa berhasil terselamatkan.”

 

Biografi Penulis :

Namaku Istiqomatudz Dzakiroh. Orang-orang lebih sering memanggilku Atik. Aku juga mempunyai sebuah nama pena, yakni Idzanami19, yang merupakan singkatan dari nama lengkapku dan nama karakter anime kesukaanku, juga tanggal lahirku. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember.

Rumah Maru, cerita ini kubuat saat aku masih duduk di bangku SMA. Saat itu sedang musim berita tentang pembakaran hutan di daerah Kalimantan sana. Tadinya aku ingin membuat cerita tentang romansa antara hewan-hewan itu, entah bagaimana tiba-tiba menjadi seperti itu. Tapi tak apalah, aku suka cerita itu dan kurasa itu adalah cerpen fantasi pertamaku.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑