Rumah Maru

Oleh: Istiqomatudz Dzakiroh

Asap membumbung memecah langit yang tadinya biru. Rerumputan dan dedaunan itu kini mengering. Ujung-ujungnya hitam pertanda baru dilalap api. Seorang gadis menatap hamparan gersang di hadapannya dengan sedih. Tangannya memegang sebuah syal merah yang ujungnya bekas terbakar.

“Maru…” ucapnya lirih. Air matanya mengalir membasahi pipi tembemnya. Baru dua hari ia meninggalkan tempat ini. Tapi saat ia kembali, semuanya telah musnah. Hanya sebuah syal yang kini ada di genggamannya yang tersisa. Ia teringat dua hari yang lalu, saat semuanya masih di sini.

“Nara, ayo tangkap aku!! Weeekkk…” seekor tupai melompat dan berlari dari satu pohon ke pohon yang lain.

“Maru, tunggu! Awas kamu nanti, ya!” Nara, gadis cilik berpipi tembem itu berlarian ke sana ke mari mengejar tupai bersyal merah itu.

“Hihihi… aku nggak akan tertangkap dengan mudah.” Ucap Maru dengan yakin. Ia sedang bersembunyi di dalam lubang sebuah pohon besar. Pohon tua itu selalu menjadi tempat andalannya untuk bersembunyi dari kejaran Nara, teman manusianya.

Nara mencari Maru dengan sangat teliti. Dari pohon satu ke pohon yang lain. Dari semak-semak yang satu ke semak-semak yang lain. Ia berhenti di depan pohon besar untuk mengatur napasnya yang tidak keruan. “Maru ke mana sih?!” tanyanya kesal pada diri sendiri.

“Hihihi… dia masih belum sadar kalau aku ada di sini.” Ucap Maru pelan agar tidak terdengar Nara.

Sssshhhhhh…

Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Maru. Matanya terbelalak saat melihat seekor ular sanca melata ke arahnya. “Aaaaahhh…!!!” jeritnya. Membuat Nara yang sedang tertidur langsung terperanjat.

“Maru!” Nara mencari-cari Maru. Ia berjalan memutari pohon sambil menatap ke atas pohon. Mencari keberadaan Maru.

“Pergi! Jangan makan aku! Nara! Tolong aku!” jerit Maru saat sanca itu mulai meliliti tubuh mungilnya.

Ada sebuah lubang di salah satu sisi batang pohon. Nara melihat ada ekor ular yang menjulur keluar dari lubang itu. Ia pun berusaha menariknya dengan sekuat tenaga. Perlahan ular itu jatuh. Ia terkejut saat melihat Maru yang tidak sadarkan diri di dalam lubang itu.

Ular itu menyerang Nara. Ia berusaha melilit kaki Nara, tapi Nara lebih cerdik. Ia melompat ke sana ke mari setiap ular itu akan melilitnya sehingga membuat ular itu lelah dengan sendirinya. Ular itu pun pergi setelah mengeluarkan suara desisannya.

Nara menghela napas lega. Ia kembali mengintip ke dalam lubang untuk mengecek keadaan Maru. Terlihat Maru yang sedang duduk dengan wajah tertunduk. Merasa malu, takut ataupun kesal. Entahlah, Maru sendiri juga tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini.

Nara tersenyum. “Maru nggak apa-apa, kan?” tanyanya.

Maru hanya mengangguk. Ia tidak berani menatap Nara.

“Aku nggak marah kok, ayo keluar.” Ucap Nara, seperti tahu apa yang sedang dipikirkan tupai bersyal merah itu. Ia mengulurkan tangannya ke dalam lubang.

Maru menatap Nara dengan mata berkaca-kaca. “Nara… aku takut…” ucapnya. Ia meraih tangan Nara dan menggelayutinya. Nara pun mengeluarkan tangannya dari lubang dan memeluk tubuh mungil Maru yang gemetaran.

Nara kembali menatap apa yang ada di hadapannya. Dulu, Maru sangat ketakutan saat akan menjadi santapan ular itu, apakah Maru juga sangat ketakutan saat api menghanguskan rumahnya? Pikiran Nara berkecamuk. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebelumnya ia selalu bermain di hutan ini dengan riangnya. Bermain petak umpet dengan Maru dan hewan-hewan lainnya. Bersembunyi di balik pohon-pohon yang rindang.

Tapi itu dulu. Kini semuanya telah hancur. Hutan yang menjadi kebanggaan negeri, kini telah tiada karena tangan orang-orang yang tak bertanggung jawab, yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa sadar bahwa ia sedang membunuh jutaan nyawa. Dan Maru… di mana Maru sekarang? Apa ia selamat? Atau… ikut hangus terbakar seperti jutaan pohon itu?

Para aktivis lingkungan terlihat sedang sibuk memadamkan beberapa titik api yang masih menyala. Mereka berbondong-bondong membantu memadamkan api. Nara menatap mereka dengan perasaan lega. Ia pun tersenyum, “Ternyata masih ada orang-orang yang peduli dengan rumah Maru.” Pikirnya.

“Nara!” seseorang memanggilnya. Sebuah suara yang sangat dikenalnya.

Nara menoleh, ia tersenyum. “Dari jutaan nyawa yang menghilang, satu nyawa berhasil terselamatkan.”

 

Biografi Penulis :

Namaku Istiqomatudz Dzakiroh. Orang-orang lebih sering memanggilku Atik. Aku juga mempunyai sebuah nama pena, yakni Idzanami19, yang merupakan singkatan dari nama lengkapku dan nama karakter anime kesukaanku, juga tanggal lahirku. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember.

Rumah Maru, cerita ini kubuat saat aku masih duduk di bangku SMA. Saat itu sedang musim berita tentang pembakaran hutan di daerah Kalimantan sana. Tadinya aku ingin membuat cerita tentang romansa antara hewan-hewan itu, entah bagaimana tiba-tiba menjadi seperti itu. Tapi tak apalah, aku suka cerita itu dan kurasa itu adalah cerpen fantasi pertamaku.

Iklan

PENERIMAAN ANGGOTA BARU UKM KESENIAN UNEJ

pamflet orientasi new.jpg

Salam Budaya….!!!
Halo gaesss….!!!
Ada kabar gembira buat mahasiswa UNEJ yang jatuh cinta sama kesenian!
UKM Kesenian UNEJ lagi “Open Recruitment” anggota baru angkatan XXI.
📝 Persyaratannya :
– Mengisi formulir pendaftaran online di Form Pendaftaran Online (yang sudah mengisi tidak perlu mengisi lagi).

– Mengunduh, mengisi, dan menyerahkan berkas formulir registrasi ulang di Unduh Form Registrasi ke sekertariat UKM Kesenian UNEJ.
💰 Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 80.000,-
👩‍⚖ Mengikuti TM pada tanggal 1 & 6 Maret 2018
💳 Menyerahkan 1 lembar FC KTM
🖼 Menyerahkan 1 lembar pasfoto berwarna ukuran 4X6
Mudah kan?
Formulir pendaftaran sudah bisa diunduh mulai 1 Februari 2018. Batas akhir registrasi tanggal 28 Februari 2018. Ikutan dah…!! Biar nggak nyesel…?! Tapi kalau sudah ikut, jangan main-main loh, karena apa? Karena “DISINI KITA BERMAIN, TAPI TIDAK MAIN-MAIN”. 😁
Salam Budaya….!!!

 

Fan-Art dalam Rupa

Merah

WhatsApp Image 2018-01-24 at 15.46.17

Karya tersebut termasuk Fan-Art atau karya yang merujuk pada suatu tokoh atau orang yang kebetulan saya kagumi. Tokoh yang saya ambil merupakan salah satu anggota grup Blackpink yang bernama Lisa. Karya tersebut saya buat menggunakan tehnik arsir biasa menggunakan pensil dan saya padukan dengan pensil warna. Alasan saya menonjolkan warna merah pada bagian rambut dan bibirnya karena tokoh yang saya gambar memiliki karakter kuat dan berani. Maka dari itu warna merah saya gunakan untuk menggambarkan karakternya.

————————————————————————————

Si Alis Tebal dari Spanyol

WhatsApp Image 2018-01-24 at 15.46.18

Sama dengan karya yang sebelumnya, karya ini juga termasuk Fan-Art dimana saya menggambar tokoh yang saya kagumi lainnya yakni artis dari Spanyol, Manurios. Tehnik yang saya gunakan untuk menggambar tokoh tersebut adalah tehnik arsir menggunakan pensil. Pensil yang saya gunakan ketebalannya bermacam-macam mulai dari 2B sampai 8B. Dimana pensil 8B saya gunakan untuk menggambar bagian yang tebal.

Oleh: Amanda Ecka Lindaningrum yang biasa dipanggil ‘Manda’, perempuan kelahiran Tulungagung 31 Januari 1999 yang saat ini duduk di bangku kuliah jurusan Pendidikan Fisika Universitas Jember. Perempuan yang bertempat tinggal di Desa Campurdarat kabupaten Tulungagung ini suka menggambar sejak SD dan kini ingin meningkatkan kemampuannya dengan menjadi bagian dari UKM kesenian Universitas Jember.

temui pengkarya melalui:

instagram

TELAGA JABAT TANGAN

Cerpen: Ibnu Wicaksono

33emoji-jabat-tangan

 

Jabat tangan seringkali menjadi peristiwa pelunasan sebuah perpisahan yang amat dalam. Tentu, pertemuan adalah jawaban atas segala rindu yang tak lebih dari lima detik akan bergegas sirna. Setidaknya, selama beratus-ratus tahun lamanya, tradisi jabat tangan di Kampung Balung, sebuah kampung yang boleh dikatakan mungil, telah menyebar tradisi jabat tangan sebagai peletakan kehormatan atas pertemuan dari perantauan, perpisahan atau jenis-jenis tatap muka yang lain.

            Orang-orang di Kampung Balung hidup di atas tanah leluhur yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Bagi mereka, jagongan dengan sesama tetangga adalah peristiwa paling penting daripada ibadah rohani, mencari uang, mencuci baju atau mengeringkan padi. Sejak kakek-nenek mereka kecil, kampung mereka telah menjalani hidup sebagai tempat bermukimnya manusia dengan jiwa kemanusiaan yang amat tinggi.

            Itu pertama kali kesanku mengunjungi kampung yang murung ini. Aku telah bertemu dengan Pak Di, seorang tukang kebun yang harus aku wawancarai. Padanya-lah, aku bergegas tahu tentang dongeng ‘telaga jabat tangan’. Berikut adalah hasil wawancaraku, yang telah kutuliskan dengan gaya prosa.

            Sekali lagi, ini adalah nostalgia paling hiperbola sejak saya telah tumbuh menjadi cucu-cucu mereka yang entah keturunan ke berapa. Hari ini, saya telah tumbuh sebagai tukang kebun di sebuah sekolah menengah atas, di mana tetangga-tetangga saya tidak mau tahu apa-apa tentang saya, hanya akan takjub atau memberikan penghargaan atas nama moral ketika saya mampu membeli sepeda motor, televisi, kulkas atau materi-materi lain. Sudah tidak saya jumpai lagi bagaimana ‘tradisi jabat tangan’ yang hanya menjadi dongeng: cerita saban senja di sebuah pelataran rumah Pak Lan, semasa saya masih kecil dulu.

            Maka, saya layangkan kisah ini padamu, agar kalian tahu bahwa kampung kami pernah memiliki memoar yang tak pernah tercatat di museum atau catatan-catatan sejarah di instansi manapun. Usai menyapu halaman sekolah, membersihkan lantai kelas, mengecek kamar mandi dan memastikan tak ada lagi siswa yang menghuni lingkungan sekolah, saya mengunjungi sebuah warung nasi pecel kecil, tapi sangat terkenal, Warung Mbok De Sah. Sebenarnya saya sudah seringkali berkunjung ke warung Mbok De Sah, meski hanya sarapan, ngopi atau sekedar menghabiskan waktu. Tapi kali ini berbeda, saya telah berjanji dengan seorang reporter dari kota, entah atas kepentingan apa.

            Aku jabat tangan Pak Di dengan segala kesantunan yang kumiliki. Senyumnya gurih, tulus dan penuh keramahan. Pelupuk matanya amat meneduhkan. Langsung kutanyakan padanya: Mengapa di sini ada Telaga Jabat Tangan? Aku harus mewawancarainya.

            Saya tak menjawab dengan gegas pertanyaannya. Saya pesankan secangkir kopi dengan berbasa-basi sebentar, saya perhatikan tubuhnya. Sepertinya orang baik. Saya juga tidak menemukan jejak-jejak asing dalam wajahnya, tetapi saya tetap waspada. Continue reading “TELAGA JABAT TANGAN”

Seraut Wajah

Sebuah Cerita Pendek
Karya: Leizza

            Cahaya menyibak dari ufuk timur. Hangatnya menyapa pada setiap jiwa, kabut perlahan terusir oleh kerumunan roda-roda bermesin yang asapnya bergelut dengan aroma khas pagi. Pohon-pohon telah lama tumbang akibat pelebaran akses kepentingan manusia. Tanah tergantikan dengan kerasnya aspal yang menyusuri gang ukuran kecil berkelok-kelok panjang diselip suasana kumuh dan tata rumah berjepit-jepit. Tertatih seorang lelaki renta dengan wajah yang selalu dilumuri senyum. Legam kulit terbakar matahari. Dengan sisa-sisa keperkasaan yang hampir memudar, terbaca dari garis-garis dagunya. Pakaian compang-camping melekat pada badan kurus kering. Berjalan membawa besi pengait di tangan kanannya dan karung putih di atas punggungnya. Rutinitas dilakukan untuk mengais butiran emas yang mungkin dalam kenyataannya adalah tumpukan sampah busuk dan tengik. Keadaan memaksa agar sesuap nasi bisa menghampiri dirinya. Waktu telah menggilas semua. Tidak sedikitpun mengeluh. Jalani dengan tegar dalam sikap pantang menyerah.

            Lalu-lalang khalayak manusia metropolis yang akan memulai untuk pergi kerja, ke sekolah, berbelanja, lari pagi atau bahkan menganggur ke sana kemari. Bunyi-bunyian klakson bersemarak mencemari pendengaran. Trotoar telah disesaki para pedagang kaki lima yang bersiap menjajakan dagangan. Para polisi telah berlabuh di tengah jalan untuk siaga mengatur jalan. Telah terbiasa Lelaki tua itu menyaksikan rutinitas padat sesak. Malah membuat lelaki tua itu terasa memikul rasa kesepian. Tak ada yang peduli, hanya segelintir insan dermawan yang mau menatap beban kesendirian hidup duafa. Ia tetap menyusuri dalam terjalnya aral.

            Tampak dua wanita berlari dari seberang jalan. Membawa tas belanja dengan merk terkenal, mereka tenteng pada setiap celah jari-jari mereka. Tawa lepas terdengar keras mengagetkan telinga. Penampilan nyentrik diperlihatkan membuat kagum setiap mata yang memandang. Menggambarkan betapa riang kebebasan ada di tangan.

            Tiba-tiba terdapat sebuah botol bekas mendarat tepat di kepala lelaki tua itu. Menggeliat kaget dengan mengucap kalimat istigfar dia lantunkan. Dia mengarahkan pandangannya pada dua perempuan yang sedang berjalan lima meter di depannya. Dua perempuan itu nampaknya sengaja atas pelemparan itu atau pura-pura tak sengaja. Kenyataannya terlihat pada pekikan tawa mereka. Bergegas mereka menghampiri lelaki tua itu sambari ingin mengutarakan sesuatu.

SONY DSC

Continue reading “Seraut Wajah”

Sepasang Puisi Diana Purnawati

Destiny Jingga

Ram-temaram durja,
berkening kuning, sepuing muka jingga

Hei, kau! pelanglang buana,
berlabuhlah pada kembar geladak yang berdetak
bermukimlah dayung renta
terengah-engah dalam lembar telapak retak

Bergegas ketuk pintu, gubukmu menunggu,
berteriak reyot di punggung panjang ilalang
diserbu fauna liar, dicumbu cinta belukar
Jangkrik!

Oh, tidak semestinya itu bukan buah bualan
laba-laba takut sendirian

nuansa samar abu-abu,
hidup moksa di antara samudra
tiada dapat harta.

sebingkis senja ber da..da..da
aku dihempas laut lepas,
bosan mungkin, memesan manekin

takdir getir disorot ribuan pendar jingga
aku bersama nasib menjelma jelita
Ha..ha..ha

kakak

Continue reading “Sepasang Puisi Diana Purnawati”

Puisi-puisi Telaga Air Mata

Dirimu

Karya: Danu

Suka
Duka
Rasa
Cinta

Itu dirimu
Nyata yang sederhana.

Sepi
Sunyi
Tenang
Lengang

Itu dirimu
Kenang yang menenangkan.

Luka 

Setetes embun jatuh
Saling berjalan mendahului
Setetes embun jatuh
Bermuara dan berhenti pada tanah yang basah.
Setetes air mata turun
Berteriak meminta tangan menghapusnya
Setetes air mata turun
Karena luka yang dibuat kesayangannya.

Buih

Karya: Mey

Lelah.
Kau akui lemah.
Air matamu  terus merembes.
Mata menggelap menanda sesal terdalam.
Hati meraung.
Tapi kau abaikan.
Lalu?
Apa guna hati, Jika kau diam!
Ah!…
Kejamnya arus distorsi yang terus mengikat.
Mengubah keyakinan menjadi buih.
Dirimu haus dalam kering.
Seiring tali yang kau renggut
Seiring pasak.
ditarik paksa.

Cengeng

Ku tatap arus penghisap.
Mereka sama.
Ragaku juga jiwanya
Lalu kau menangis!
Berseru jijik!

Sepatu putih

Karya: Lailatul Izza

Kakiku terlihat apik memakai sepatu putih
Kakiku terlihat anggun memakai sepatu putih
Kakiku terlihat indah memakai sepatu putih
Tapi kotor oh ada yang menginjak
Menyiprat, mencoret
Ternoda
Terluka
Bukan sepatu putih

Prahara

Hati menyangkal tentang luapan pikiran
pikiran menyangkal tentang luapan tindakan
Tindakan menyangkal tentang luapan penyesalan
Paling dalam dan terdalam mendengar suara tangisan
Bagaimana memahami ronta hawa biru
Sekali lagi berkali kali ulangi lagi
Titik jenuh tak juga temui
Sumpah serapah sertai bayang ilusi fantasi
Sampai kuakhiri

13 Mei 2017

Continue reading “Puisi-puisi Telaga Air Mata”

Pantai Coklat

Oleh: Majdina
0c40c57ac80cd3aaefe8b990cf0144b7

“Bersembunyi di dalam rumah adalah hal yang akan menjauhkanmu dari seorang teman.”

Dahulu kala disebuah negri dongeng hiduplah seorang anak perempuan yang begitu pemalu bernama Uma. Dia tinggal bersama dengan wanita yang begitu cantik yaitu ibunya. Tinggal di daerah pesisir pantai coklat membuat Uma pandai berenang. Tiada hari tanpa dilaluinya dengan bermain di pantai coklat.

Suatu hari datanglah seorang anak perempuan menghampiri Uma. Dia sangat lucu dan terus mengganggu Uma. Anak perempuan itu bernama Una. Una adalah pendatang baru di negri dongeng. Tinggal bersama Neneknya disebuah rumah berbentuk Lolipop. Una sengajak memilih rumah lolipop sebab Una suka makan Lolipop.

Awalnya Uma merasa terganggu dengan kejailan yang dilakukan Una terhadapnya. Bahkan Uma selalu menghindar dan bersembunyi ketika melihat Una di pesisir pantai coklat. Hampir setiap hari Una pergi bermain di pesisir pantai coklat dan berharap dapat bermain dengan Uma. Tetapi una tidak tahu bahwa Uma tidak akan datang bermain dengannya lagi. Una tidak kehabisan akal dia mencoba mencari rumah Uma tetapi dia tidak bisa menemukannya. Una tidak putus asa dia mengetuk setiap rumah dipesisir pantai coklat. Hingga tiba dirumah Uma. Diketuk pintu rumah Uma yang sepi karena ibu Uma tengah pergi ke pasar selai. Uma mengintip dari jendela dan melihat Una. Dia berlari untuk bersembunyi dan berpura-pura tidak mendengar ketukan pintu dari Una. Karena merasa tidak ada orang, Una pun pergi meninggalkan rumah Uma. Continue reading “Pantai Coklat”

Membawa Kenangan ke Panggung Nostalgia

UKM Kesenian Universitas Jember menggelar acara temu anggota dan alumni pada tanggal 05-06 Mei 2016 lalu dengan tema “Di Sini Kita Bermain Tapi Tidak Main-Main” sesuai dengan motto UKM Kesenian. Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembalikan dan menyambung tali silaturahmi dari seluruh anggota UKM Kesenian Universitas Jember.

Dengan diketuai oleh Kuspita Sari Continue reading “Membawa Kenangan ke Panggung Nostalgia”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑