Bersama Bersaudara -Orientasi Angkatan XXI UKM Kesenian Unej

Pada awal tahun ajaran baru ini UKM Kesenian Universitas Jember (UJ) kembali membuka pendaftaran atau open recruitment anggota baru yang berujung pada pelaksanaan kegiatan orientasi (sebutan pendidikan dan pelatihan dasar seni untuk UKM Kesenian UJ). Orientasi kali ini telah memasuki angkatan yang ke-21 dan seperti biasa orientasi dilaksanakan 2 (dua) fase dan di tempat yang berbeda pula.

Fase Orientasi Ruang dilaksanakan 2 (dua) hari yaitu pada Sabtu (3/3/2018) sampai dengan Minggu (4/3/2018) yang bertempat di Gedung Sporthall UJ dan Orientasi Lapang pada Kamis (15/3/2018) sampai dengan Minggu (18/3/2018) di daerah Perkebunan PDP Kahyangan, Desa Kemiri, Kec. Panti, Jember, Jawa Timur. ORIENTASI XXI UKM Kesenian UJ kali ini mengusung tema “Bersama Bersaudara” dengan harapan mampu menciptakan karakter yang memiliki jiwa solidaritas tinggi pada para calon anggota.

Sekitar 160 lebih peserta dari berbagai fakultas yang ada di Kampus Tegalboto ikut dalam kegiatan ini khususnya pada Orientasi Ruang. Hari terakhir Orientasi Ruang mereka dibentuk menjadi kelompok-kelompok kecil dari berbagai bidang seni yang ada dengan tujuan agar mereka dapat mengenal satu sama lain, tidak hanya teman satu bidang saja, sebab UKM Kesenian UJ merupakan sebuah organisasi, bukan sanggar. Pada hari terakhir Orientasi Ruang, tepatnya Minggu malam(4/3/2018) mereka diwajibkan mementaskan sebuah pertujukan sebagai syarat lolos pada Orientasi Ruang ini.

 

 

Setelah dinyatakan lolos pada Orientasi Ruang para peserta kemudian melewati Orientasi Lapang. Pada fase ini jumlah peserta atau calon anggota mengalami penurunan. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya hal ini biasa terjadi dimungkinkan peserta yang kurang siap dalam berbagai hal baik fisik maupun mental untuk terjun ke lapang.

Fase Orientasi Lapang sendiri menjadi fase yang paling berkesan, bagi para calon anggota muda khususnya. Di sana mereka ditempa selama 4 (empat) hari di alam terbuka. Bukan tempaan ala militer atau apapun sejenisnya, tapi tempaan di sini lebih kepada mental dan kesadaran mereka dalam menjalani proses berkesenian di UKM Kesenian UJ nantinya. Dimulai dengan berjalan kaki setelah turun dari truk yang membawa mereka (calon anggota muda) ke desa terakhir sebelum perkebunan, melewati pohon-pohon karet yang berjajar sampai akhirnya tiba di lokasi pelaksanaan orientasi setelah menyeberangi sungai berair jernih.

Tak lama setelah sampai di kamp, para calon anggota muda langsung diarahkan untuk membuat lingkaran. Lingkaran yang dibentuk setiap akan ataupun saat berkegiatan orientasi inilah yang nantinya menjadikan para calon anggota muda memiliki rasa “Bersama Bersaudara”. Orientasi lapang ditutup pada Minggu pagi (18/3/2018) dengan peng-ikraran di sungai. Dengan terpaan arus air yang segar, mereka bersama-sama mengucap ikrar yang menandakan telah selesainya rangkaian orientasi lapang angkatan XXI.

Salam Budaya !!!

ditulis oleh : Instagram

Featured post

Bom Jihad: Untuk Kebebasan Interpretasi Masa Kini

Bom Jihad: Untuk Kebebasan Interpretasi Masa Kini

-Muhammad Rizqi Nur-

Apa yang pertama kali muncul dibenak kita ketika membaca ataupun mendengar kata Bom Jihad?, pastilah sebuah gerakan radikalisasi, gerakan anarkis yang disuarakan melalui jalan vandalisasi terhadap apa-apa yang terpampang nyata di publik sebagai identitas lawan/ target. Gerakan yang di inisiasi sekelempok orang yang hendak merubah keadaan dengan berbuat onar, merusak properti dan bangunan, menyebarkan ketakutan dan banyak hal merusak lainnya demi tujuan yang hendak dicapai. Namun disini yang hendak saya sampaikan bukan perkara bom bunuh diri dan terorisme yang belakangan ini gencar di bumi nusantara secara detail dan komprehensif, bukan pula perkara agama dengan dalil-dalil fasihnya, maupun pembahasan secara terminologi terkait esensi kata ‘’Bom Jihad’’ itu sendiri, namun sesuai judulnya, disini saya mencoba menghadirkan kata ‘’Bom Jihad’’ sebagai lambang kekeliruan interpretasi dan penangkapan informasi yang sering terjadi di lingkungan sekitar.

Bagaimana ‘’Bom Jihad’’ ini mewakili kekeliruan interpretasi?, sebelumnya saya akan sedikit bercerita dan membuat contoh kasus, yakni kejadian gempar yang menimpa bumi Surabaya 2018 silam, saat dimana terjadi bom bunuh diri di depan gereja dan menewaskan banyak korban serta memberikan efek ketakutan secara massal, perbuatan biadab itu dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak jelas identitasnya, menggunakan identitas Islam untuk meledakkan dirinya di depan gereja dan menimbulkan belasan korban jiwa dari pihak Kristiani, itulah faktanya, itulah kejadian nyatanya. Kemudian katakanlah pihak Kristiani geram melihat itu, dan menyalahkan umat Muslim karena berbuat keji dengan seenaknya nyelonong ke gereja dan menyulut bom, meskipun secara fakta kita pahami tiada satupun agama (bahkan Islam sekalipun) mengajarkan pengikutnya untuk berbuat kejam antar lintas agama, sekalipun berbeda sesembahan, pola fikir dan ideologi, sekalipun mencuri seonggok sandal di acar dangdut-an, umat yang dilukai membuat interpretasi dengan mengambil kesimpulan bahwa semua orang Islam salah, dari umat yang identitasnya dimanfaatkan merasa dirugikan dan direndahkan, lalu akar semua ini adalah pihak anarkis yang seenaknya meledakkan diri itu dan memang itulah tujuan utamanya, menciptakan momen chaotic, menciptakan perang dan menumbuhkan demoralisasi antar umat beragama.

Sebuah siasat dimana suatu kelompok/ individu mencoba menarik kesimpulan akhir hanya dengan melihat beberapa kasus kecil saja, tanpa mempertimbangkan untuk menilik lebih dalam dan melihat kebenaran yang ada, analogi gampangnya begini : si C menyalahkan si A karena si B menggunakan identitas si A untuk melukai si C, disitulah siasat ‘’Bom Jihad’’ bekerja.

Sedikit pengalaman pribadi terkait siasat Bom Jihad ini, saya coba korelasikan dengan pengalaman diskusi beberapa waktu yang lalu, cerita pertama datang dari diskusi antara saya dan seorang kawan dekat setelah secara sepihak dia menyatakan bahwasanya‘’Feminisme sebagai gerakan yang katanya memberi solusi terhadap ketimpangan gender tapi nyatanya tidak memberi solusi’’, beliau menguatkan opininya dengan memberikan 2 contoh kasus gerakan Feminisme diberbagai belahan dunia yang dikatakan melenceng dari agama, seperti gerakan menggebu anti pelecehan seksual tapi oknum penyuaranya sendiri sehari-harinya masih saja menggunakan pakaian minim, lalu tentang wanita-wanita di Palestina, Ugur dan Khasmir yang bahkan mungkin sudah mendengar eksistensi Feminis di dunia namun mereka tetap diam saja dan ikhlas menerima segala ketentuan agama disana yang bisa dikatakan menurut kacamata Feminis terkesan patriarkal.

Cerita kedua datang dari kritik pedas seorang kawan, yang secara tidak sengaja mendapat link artikel dari website ‘’Magdalene’’ dengan judul ‘’Terbatasnya Ruang Shalat Bagi Perempuan di Masjid dan Hak Istimewa Laki-laki’. Apa yang membuat kawan saya tertarik untuk memberikan wacana banding adalah bagaimana sang penulis ini menuangkan keluhnya. menurut penulis, Islam memberi perlakuan seksis pada wanita, utamanya pada shaf solat di Masjid, penulis berpendapat bahwa ‘’perempuan adalah kaum yang termarginalkan bahkan ketika urusan beribadah’’, argument ini diperkuat dengan pengalaman langsung dari penulis ketika sedang melakukan perjalanan dan berhenti di masjid rest area, di sana tempat space ibadah laki-laki dengan kondisi lebih longgar dan berada didalam ruangan, sedangkan untuk para wanita diluar, kemudian diperkuat pula dengan kecurigaan penulis terhadap hadis riwayat HR. Abu Daud yang berbunyi ‘’Sholat seorang perempuan di rumahnya lebih utama baginya daripada sholatnya di pintu-pintu rumahnya, dan sholat seorang perempuan di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya’’, lagi-lagi fenomena Bom hadir disini, dengan penulis yang mengambil keputusan mentah-mentah, membanding-bandingkan keadaan shaf sholat di Masjidil Haram yang katanya space pria-wanita seimbang.

Akan menjadi sebuah kesalahan fatal apabila dalam mengambil sebuah kesimpulan kita hanya berpatok pada beberapa kasus kecil saja dan melupakan fakta yang lebih luas dan kebenaran sejarah di dalamnya, dari cerita pertama, setelah mendengar argumentasi kawan saya, saya mencoba meluruskan dengan mengatakan tidak semua gerakan Feminis ini benar-benar menyimpang, saya coba jelaskan bahwasanya Feminis tidak lain dan tidak bukan ditujukan hanya kepada wanita itu sendiri, Feminis berusaha untuk memuliakan wanita dengan menuntut beberapa aspek yang selama ini tertimbun oleh bayangan patriarki, yakni perlindungan dari kekerasan seksual, kesetaraan hak mengenyam pendidikan, kesetaraan hak dalam memperoleh pekerjaan (karir) dan kesetaraan hak dalam memperoleh besarnya gaji. Barangkali dirasa ada kejanggalan dalam gerakan Feminis itupun kalau bukan perbedaan sudut pandang, maka ada oknum penyuara yang salah/ keliru dalam menafsirkan, menutup aurat adalah kewajiban wanita muslim supaya terhindar dari pelecehan seksual, lalu bagaimana dengan umat lain?, pastinya umat lain memiliki pandangan berbeda terkait ini, kalaupun berjilbab adalah keputusan final untuk melindungi kehormatan perempuan dari sexual harassment, lalu bagaimana dengan berita tentang kyai dan ustad yang memperkosa santriwatinya sendiri?, bagaimana dengan berita tentang siswi sekolah yang dengan berat hati mau diraba gurunya sendiri demi nilai bagus dan tunjangan SPP?, hal ini justru memberi kesan bahwa berkerudung atau tidak, kejahatan bisa terjadi dimanapun dan kapanpun itu.

Lalu terkait cerita kedua, ketika kawan saya mencoba mengkritisi seorang penulis yang secara satire mengatakan bahwa Islam dalam perlakuannya masih memberikan bulir-bulir seksis, utamanya pada ranah beribadah, menurut saya pribadi penulis masih ter-cekoki siasat Bom Jihad disini. Secara fakta (dan ini terjadi disekitar saya) space yang lebar untuk pria dan sempit untuk wanita itu diukur berdasarkan frekuensi jama’ah yang hadir dan benar-benar kondisional, karena memang lebih banyak yang hadir daripada hadiroh. untuk space yang setara di masjidil haram bukankah juga menerapkan sistem kondisional, secara disana jamaah yang hadir lebih banyak dan berasal dari beragam penjuru dunia.

Pada akhirnya kita tidak bisa semudah itu menyimpulkan suatu zat yang tak jelas asal-usulnya bersifat asam/ basa dengan hanya mencelupkan kertas lakmus di permukaan jelaga, bagaimana dengan endapannya?, bagaimana dengan partikel-partikel koloid yang mengambang di tengah-tengahnya?, kita juga tidak bisa menuduh seseorang sebagai antek PKI ketika dipergoki sedang membaca Madilog, pun tak bisa sembarangan menuduh iklan layanan masyarakat ‘’kafir’’ setelah iklan tersebut mengucapkan ‘’selamat natal’’. Dalam memahami sebuah konsep dan analisis suatu hal, yang terpenting adalah memahami konsepsinya dulu, benturkan dengan peristiwa yang akan ditelaah, lalu koreksi dengan realitas sosial yang ada, jangan lupa menyertakan studi ilmu pendukung yang akan dipakai untuk menganalisis, penting juga untuk selalu berfikiran terbuka, dan benar-benar membaca sebelum menyimpulkan.

Nur-Out !

Sempena Anak-Anak Merah Muda

Ilustrasi : sandalealaddin

Sempena Anak-Anak Merah Muda

(Karya Milatul Maftah)


1/
Anak-anak berjubah pagi berlarian menyeberangi telaga tempat para moyang zaman wayang membasuh luka.
Menyanyikan tembang hingga sengau suara-suara itu membias sumbang.
Anak-anak merah muda di tepi telaga, menerbangkan layang-layang
Bersama angin yang diam-diam melindap di dahan akasia
Entah ke Selatan entah ke Utara, layang-layang menembus mega
Membuka cakrawala penuh tanda baca, penuh tanda tanya.

Barangkali mereka tak tahu bahwa zaman telah merangkak,
lalu jatuh sebagai hujan yang menggenang di sepanjang jalan pahlawan,
mengendap pada kubangan samping gedung perkantoran,
selokan depan sekolah, dan menyelinap di celah lubang atap perpustakaan kota lalu rebah
di halaman buku yang tiada henti mereka eja terbata-bata
kala ruangan mendadak lengang
tanpa jubah pagi pada tubuh anak-anak merah muda.


2/
Pada pagi yang kudus ku lihat seorang anak melukis nabastala
di sebuah telepon pintar tanpa mendongak ke atas
Seorang yang lain terus menekan tombol-tombol ajaib
dengan mulut dan mata tertutup
Sedang seorang gadis menari di tengah kumparan angin
Menjilati pecahan matahari
berdialog dengan diri sendiri;
“Aku anak dari zaman merah muda. Berbicara tanpa membaca. Aku memintal sunyi menjadi pembaringan, sebagai pengganti pelukan Ibu yang karam di atas tumpukan kertas dan surat-surat tanpa alamat”


3/
Saat purnama bergulat dengan angin Selatan, ayah berkecipak menembang perihal kemarau yang mengulum matahari hingga memar
Ibu memangku bocah berjubah pagi yang tengah mengolah zaman dalam genggaman
“Matahari pulanglah matahari, pada pelukan laut dan jingga kening kami.
kemarau pulanglah kemarau, pada betis dan rambut anakku yang bau matahari”
Seketika bocah itu berlari melepas layang-layang di pinggir kali, lalu mendongak ke langit
“Ayah, mengapa matahari tenggelam?”
Ayah mendongak
“Ajarilah Ia berenang mengarungi zaman!”

Jember, Februari 2020.

#Dirumahaja Sebagai Ajang Berkontemplasi dengan Diri Sendiri

Photo By : Maren

Adanya himbauan untuk membatasi aktivitas sosial dengan orang lain, membuat sebagian orang mempunyai waktu lebih untuk memanjakan dirinya, salah satu aktifitas yang mereka lakukan yaitu dengan merias diri. Merias diri atau berdandan adalah salah satu cara untuk menghargai dan mencintai diri mereka.

Photo By : Gilang

#Dirumahaja, nikmati kehidupan yang sederhana dalam setiap isapan sampoerna.

#Dirumahaja Sebagai Ajang Kontemplasi dan Kembali Pada Rutinitas yang Sempat Terlupakan

Photo By : Kartika

Quality Time. Di rumah aja memberikan ku waktu lebih banyak untuk bisa bermain dengan adik, memperbaiki hubungan dan tertawa bersama.

Photo By : Leli

#dirumahaja bukan berati membatasi diri untuk bercinta dengan hobby. Dilarang mancing di kolam pemancingan umum, mancing di rumah sendiripun tetap enjoy

Photo By : Nova

Mainnya #dirumahaja sembari memantau perkembangan Covid-19 lewat Media Sosial.

#Dirumahaja Menyajikan Kasih Sayang Untuk yang Tersayang

Photo By : Riris


Proses memasak sangat butuh tenaga dan kesabaran. Bukan hanya sekedar proses namun pikiran juga. Memikirkan seberapa pantas bahan yang dihaluskan untuk mencapai sebuah kelezatan.

Photo By : Sahab


Proses penghidangan makanan bagi keluarga tercinta.

Photo By : Varenska

Di tengah-tengah pandemi covid 19 ini, kita diinstruksikan agar tetap berada di rumah sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus ini.

Momen seperti saat ini tidak ada salahnya dimanfaatkan untuk meminta anak membantu orang tua di rumah. Banyak hal yang dapat kita lakukan selama masa karantina ini, misalnya mengajarkan kepada anak-anak untuk ikut menjaga kebersihan.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah meminta bantuan kepada anak-anak untuk membersihkan sendiri piring yang sudah ia gunakan.

#Dirumahaja harus tetap produktif berkarya

Photo By : Syahrul

#Dirumahaja “Mendadak Menjadi Musisi”

foto ini saya ambil ketika teman saya (Syaiful dan ruhin) lagi asik bermain gitar dan bernyanyi, tanpa sepengetahuan mereka. Karena masa karantina ini banyak lahir musisi baru akibat rasa bosan di dalam rumah.

Photo By : Ardi

Berkarya #Dirumahaja

Pandemi bukan berarti harus terhenti
Dari aktivitas produktif yang saat ini dihadapi

Hanya berpindah situasi,
Mencari inspirasi diluar
Kini harus tenang dirumah, menyiapkan hal yg besar

Dirumah aja,. Lakukan hal hal tak terduga
Biarkan orang lain bercibir ria, sedang kamu berkarya,.
Dirumah aja, asah terus kreatifitas
Hingga orang lain berdiri dan berkata “kamu memang pantas”

Karna produktif bisa dimana saja
Mari bantu sesama, cegah virus merajalela
Dengan tetap stay,. #Dirumah aja
Skuuyy

#Dirumahaja dengan Tetap Menjaga Kesehatan dan Kebugaran Tubuh

By : Ninda

‘#Dirumahsaja tetap jogging? ‘

Ditengah pandemi Covid-19 ini kita harus lebih rajin berolahraga untuk meningkatkan imunitas tubuh kita.

Meskipun kita dituntut untuk #dirumahsaja, menjaga dan meningkatkan imun tubuh juga sangat penting guna melindungi diri dari Covid-19 ini.

Salah satu cara mencegah tertular virus corona adalah dengan olahraga. Dengan melakukan pola hidup sehat dan berolahraga, daya tubuh Anda pun bisa meningkat.

Ya, aktivitas fisik memang diperlukan untuk menjaga stamina agar selalu fit setiap hari. Salah satu aktivitas fisik bisa dilakukan dengan jogging meski hanya seorang diri.

Ayo tetap semangat berolahraga
Meskipun harus seorang diri karena karantina
Tetap jaga diri dan jaga stamina
Dan juga jangan lupa bahagia. Stay safe everyone💞

By : Nindi

#Dirumahaja ‘Trend Berjemur Lawan Covid19’

Covid19 atau Corona Virus pada saat ini menjadi isu global yang sedang hangat-hangat nya diperbincangkan. Setiap hari media massa tidak berhenti memberitakan virus berukuran 150 nanometer ini. Berbagai upaya dilakukan termasuk pemberlakuan Social distancing untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran covid19 dan tak dipungkiri hal ini banyak menimbulkan kerugian karena manusia terpaksa membatasi aktivitasnya.

Namun, adanya covid 19 ini juga membawa dampak baik. Masyarakat yang pada awalnya acuh terhadap kebersihan dan kesehatan tubuh menjadi lebih aware. Hal tersebut bisa dilihat dari aktivitas yang dilakukan masyarakat. mulai dari rajin cuci tangan, memakai masker ketika sakit, sampai berjemur di bawah sinar matahari.

Berjemur dibawah sinar matahari kini semakin trend dikalangan masyarakat karena dianggap dapat membunuh virus dan meningkatkan imun tubuh.

Sinar matahari memang membantu manusia untuk meningkatkan vitamin D dan mempunyai efek imunomodulator yang dianggap mampu memperbaiki sistem imun dalam tubuh.
Sebenarnya Tren berjemur ini sudah melekat pada masyarakat jawa sejak dulu. Mereka menganggap berjemur dibawah sinar matahari pagi dapat menyehatkan tubuh bahkan ada sebutannya sendiri yaitu ‘Dede’ istilah itu disebut berasal dari vitamin D

Terlepas dari benar tidaknya istilah tersebut, aktivitas berjemur dibawah sinar matahari merupakan gambaran dari upaya masyarakat dalam memerangi Covid19.

Ayo lawan Covid19 !
stay at home and stay safe everyone❣

Partisipasi Artefac 2020, UKM Kesenian Unej Suguhkan Monolog Balada Sumarah

Ya… inilah saya, Sumarah. Menjadi babu, buruh, budak sudah jadi pilihan. Bertahun-tahun saya jilati kaki orang, merangkak dan hidup di kaki orang. Bertahun-tahun saya tahan mulut saya, saya lipat lidah saya agar tidak bicara.

Inilah saya
Sumarah…
saya siap mati!

Balada Sumarah menjadi naskah monolog paling fenomenal yang Kami persembahkan ketika kontes teater monolog ARTEFAC (art and sport apreciation) yang berlangsung pada 10 Maret 2020, tepatnya di Gedung Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Acara tersebut diprakarsai oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang diikuti oleh berbagai kelompok teater, termasuk teater Pendopo dari UKM Kesenian UNEJ yang menyajikan naskah karangan Tentrem Lestari yang disutradarai oleh Rizal Kurniawan dan diperankan oleh Aktor Linda Maya Pratiwi.

Balada Sumarah menyajikan problematika kemanusiaan yang begitu kompleks. Momen-momen dilematis, serta pergulatan batin yang tidak ada habisnya menjadikan sosok Sumarah begitu terpojok oleh dunia sekitarnya. Bagaimana ia dicap sebagai Keturunan PKI, ditolak kerja di banyak tempat, hingga dijauhi oleh dambaan hatinya, dan pada akhirnya akumulasi dari serentetan kisah pilu yang dialaminya menjadikan Sumarah sosok paling ndlosor dari kebanyakan manusia dengan merangkak di lapisan paling dasar dalam tatanan masyarakat, iya, sebagai budak.

Mulutnya dibungkam, tidak banyak yang bisa ia lakukan. Upahnya dipotong sekali ia berbuat kesalahan barang sedikit saja. Penonton diajak menengok bagaimana segala usaha dan upaya Sumarah untuk merawat jati dirinya, memupuknya dengan baik untuk menjadi insan yang taat, Namun, malah terjerembab ke dalam lubang penderitaan yang amat dalam, tentang bagaimana ketika ijazah, nilai rapor yang gemilang, segala prestasi yang di capai, hangus tidak berdaya di hadapan bayang-bayang bapaknya yang konon katanya pernah bersekutu dengan PKI.

Tentrem Lestari melalui karyanya Balada Sumarah, mencoba memperkenalkan Problematika Negara dalam ranah Ketenagakerjaan, mindset dan stigma masyarakat terhadap para Eks-Pergerakan Komunis secara kompleks yang kita tahu sampai saat ini, tetap dipandang sebelah mata sebagai sosok yang mengerikan. Tentrem Lestari mengajak para penonton untuk membuka hati, membuka pikiran, melihat jauh lebih dalam mengenai kasus ini, bahwasanya banyak hal yang tidak manusiawi sebenarnya bermula dari kedangkalan berpikir manusia. Anak Cucu dan keturunan PKI yang tidak diberi ruang bernapas, alih-alih turut andil berperan untuk negara bahkan untuk memperjuangkan haknya, mereka tak diberi ruang.

Begitulah Sumarah dengan segala penderitaan hidupnya, menemui keresahan paling palung dalam perjalanan hidupnya.

Kesengsaraan,
Ketidakadilan,
Pasrah menerima nasib.

Bersama ini, kami segenap Anggota UKM Kesenian Unej mengucapkan Selamat Hari Teater Se-dunia (HaTeDu) yang diperingati setiap 27 Maret.

Pementasan di UNS
Gladi Bersih

Profil Kami

Disini kita bermain, tapi tidak main main

Email : ukmkunej@gmail.com

WordPress : ukmkesenianuniversitasjember.wordpress.com

Instagram : ukmkesenian_unej

Facebook : Ukm Kesenian Universitas Jember

Humas CP : +62 823-5346-9036 (najunda) & +62 822-9778-6244 (Rizqi Wahyu)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑